
Mengenang Kepahlawanan MARSINAH Alumni SMA MUHAMMADIYAH 1 NGANJUK
Hari ini, Ahad, 1 Mei 2022 merupakan hari buruh internasional. Hari yang biasa dikenal dengan istilah May Day ini ‘diperingati’ oleh buruh seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jutaan buruh di penjuru Nusantara turun ke jalan. Namun banyak yang tidak tau pejuang buruh dengan gigih memperjuangkan haknya, salah satunya marsinah.
Marsinah merupakan seorang pejuang buruh yang diculik dan dibunuh pada tahun 1993. Tak banyak yang tahu bahwa beliau adalah alumni SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Dalam rangka menghargai dan mengenang jasanya, SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk mengeluarkan penghargaan kepada Marsinah sebagai pejuang dan pahlawan kaum buruh. Keputusan ini dikeluarkan secara resmi melalui piagam penghargaan nomor 515/KET/III.4.AU/F/2015 ditandatangi oleh kepsek SMAM 1 Nganjuk diketahui oleh ketua PDM.
Kepahlawanan Marsinah
Selepas SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk Th 1989, ia langsung bekerja karena tidak memiliki biaya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kebiasaan mandiri terus ia tempuh dengan berjualan bahan pakaian, seprei, buku-buku dan barang-barang lain di tempat kerjanya. Marsinah juga merupakan sosok yang gemar membaca apa saja dari buku dan koran. Di samping itu ia juga mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. Keterbatasan tidak menghalangi tekadnya untuk terus belajar apa saja yang mampu ia jangkau.
Hingga saat ini namanya harum dikalangan kaum buruh. Sebenarnya peristiwa ini bermula dari tuntutan yang sangat sederhana, tuntutan kenaikan upah bagi kaum buruh. Seandainya tuntutan tersebut dikabulkan, maka masalah akan selesai. Namun kenyataan berkata lain, perusahaan menolak tuntutan yang akhirnya berujung pada unjuk rasa karena beberapa buruh merasa tidak puas, dan Marsinah ikut di dalamnya. Perusahaan mengancam untuk memecat 13 orang pengunjuk rasa. Marsinah pun tidak bisa tinggal diam, ia balik mengancam akan membongkar rahasia perusahaan jika pemecatan terjadi.
Setelah kejadian tersebut Marsinah gugur dalam keadaan sangat menyedihkan. Ia gugur sebagai seorang pejuang atas nama keadilan dan kemanusiaan. Marsinah juga dinominasikan untuk menerima penghargaan “Yap Thiam Hien Human Right Award” dari Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia di Jakarta. Lebih dari itu, banyak yang mengusulkan supaya Marsinah diberi gelar pahlawan. Tidak ketinggalan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pun telah menetapkan Marsinah sebagai pahlawan. Sidang Tanwir Muhammadiyah II di Surabaya pada bulan Desember 1993 menetapkan Marsinah sebagai “Pahlawan Pekerja”. Sikap Muhammadiyah tersebut tidak sendirian. Jauh sebelum Muhammadiyah menentukan sikapnya, beberapa kalangan telah memberikan penghargaan serupa.
Sepenggal kisah Marsinah ini setidaknya sudah cukup untuk mewakili nasib jutaan buruh yang banyak dilupakan kepentingan. Berjuang melawan tirani kekuasaan yang tak berkesudahan. Memeras keringat untuk sesuap nasi dan seteguk dahaga sehari kedepan. “Yang ada disyukuri, jika tidak ada dicari dan diupayakan. Yang terpenting besok kami masih bisa makan”. Sulit bagi mereka untuk berpikir, bermimpi, dan berharap jauh kedepan, jika upahnya hanya cukup untuk mengganjal perut yang sedang lapar.
Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya mengering”. Hadits ini menunjukan kepedulian dan pemihakan Islam kepada kaum buruh dengan asas keadilan.
Spirit pembelaan terhadap eksploitasi buruh sejalan dengan surat Al Ma’un. Eksploitasi terhadap buruh merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap kaum mustadh’afin. Selain buruh, kaum yang rentan mengalami penindasan adalah petani, nelayan, difabel dan golongan minoritas.
Semoga Allah selalu memberikan tempat terbaik disurga kepada pahlawan pekerja mbak yu ” Marsinah”
(Smamsa)